NEWSROOM.CO.ID, BONTANG – Kebutuhan pagar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 8 Bontang Selatan disorot Dewan. Kondisi tersebut dinilai penting guna mendukung keamanan dan lingkungan sekolah.
Hal itu mencuat saat Komisi A melakukan kunjungan lapangan, yang digelar di SMPN 8 Bontang Selatan, Selasa (11/8/2026).
Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto mengatakan kondisi terkait pagar tersebut akan melakukan pembahasan lebih lanjut dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemkot Bontang.
Menurutnya, koordinasi ini dilakukan untuk mencari langkah yang dapat segera direalisasikan, mengingatkan kebutuhan pagar dinilai sangat mendesak.
Namun, untuk dekat ini sebagai penanganan awal menggunakan seng sebagai pagar sementara. Keberadaan pagar tersebut diharapkan dapat membatasi siswa keluar masuk, sekaligus menjaga keamanan lingkungan sekolah.
“Nanti kita diskusikan sama tim TAPD solusinya bagaimana, karena memang urgensinya pagar ini. Kalau bisa, pagar sementara dulu kita upayakan pagar seng,” ujarnya,
Heri menilai, kebutuhan pagar menjadi semakin mendesak, mengingatkan luasnya area sekolah. Apalagi sekolah tersebut berbatasan dengan kawasan yang masih dipenuhi pepohonan dan semak belukar.
Sehingga Kondisi tersebut perlu untuk diantisipasi guna mengurangi resiko keluarnya siswa dari lingkungan sekolah tanpa pengawasan.
“supaya ada menghalangi dulu sementara, kan anak-anak enggak keluar masuk,” katanya.
Sementara itu, Guru SMPN 8 Bontang Selatan, Rosidah menyatakan persoalan pagar merupakan salah satu kendala yang dihadapi sekolah selama ini. Dengan jumlah peserta didik lebih dari 400 orang, memerlukan pengawasan yang intens, terlebih lagi bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih.
Rosidah mengatakan, sejumlah siswa beberapa kali keluar dari lingkungan sekolah dengan berlari ke luar area. Kondisi itu membuat pihak sekolah kesulitan melakukan pengawasan secara menyeluruh.
Pembangunan pagar tidak hanya soal keamanan, tatapi juga berkaitan dengan aktivitas, seperti proses belajar, kegiatan keagamaan, hingga aktivitas siswa di luar jam pelajaran dapat berlangsung lebih terkontrol.
“Kalau misalkan kita punya pagar, insyaallah dalam dinilai anak-anak baik itu kegiatan keagamaan atau keseharian, itu lebih aman. Kenapa, Karena sekolah kita luas, anak-anak lari aja tidak kelihatan sudah,” terangnya.
Ketiadaan pagar dinilai juga berdampak terhadap pada fasilitas dan pembelajaran di sekolah. Salah satunya tanaman yang ditanam pada area siswa kerap hilang.
“Tidak adanya pagar, oknum-oknum di sekitar sini yang yang panen. Kadang sore anak-anak mau main di sekolah, ada dari luar yang sudah memakai sekolah kita,” pungkasnya. (Adv)











