BeritaBontangHeadlineKaltim

Lewat Smartani Goes to School, Bontang Bangun Kemandirian Pangan Sejak Dini

×

Lewat Smartani Goes to School, Bontang Bangun Kemandirian Pangan Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Lewat Smartani Goes to School, Bontang Bangun Kemandirian Pangan Sejak Dini

NEWSROOM.CO.ID, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mulai memperkuat ketahanan pangan dari tempat yang tak biasa, yakni dari kebun sekolah. Ini sekaligus membangun karakter generasi muda di masa mendatang.

Upaya itu dilakukan melalui program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Smartani Goes to School gagasan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang. Program ini tidak hanya menghadirkan kebun sekolah, tetapi  juga menjadi model pendidikan terintegrasi yang menghubungkan pembelajaran, kesehatan, ekonomi keluarga, dan ketahanan pangan.

Program itu mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) pemutakhiran program Smartani Goes to School yang digelar di Aula UPT Balai Benih Ikan (BBI) Tanjung Laut Indah, Sabtu (06/06/2025).

Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem, menjelaskan bahwa lahirnya program tersebut didasarkan pada kondisi riil Kota Bontang yang masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.

“Bontang memiliki tingkat pendapatan daerah yang tinggi sebagai kota industri. Namun di sisi lain, sebagian besar kebutuhan pangan segar masih bergantung pada distribusi dari luar daerah. Ketika terjadi gangguan rantai pasok atau fluktuasi harga, ketahanan pangan rumah tangga menjadi rentan. Dampak yang paling serius adalah ancaman gangguan gizi dan stunting pada anak-anak,” ujarnya.

Menurut Aznem, Smartani Goes to School dibangun di atas lima pilar utama, yaitu transformasi budaya agrikultur sejak dini, penguatan ekonomi rumah tangga, intervensi pencegahan stunting, optimalisasi aset sekolah melalui MBS, serta mitigasi risiko perubahan iklim.

Melalui konsep “One Student, One Polybag” setiap siswa didorong untuk membawa budaya menanam ke lingkungan rumah. Dengan demikian, pekarangan keluarga dapat menjadi sumber pangan sehat sekaligus mengurangi pengeluaran rumah tangga.

“Anak-anak tidak hanya diajarkan menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan berbasis teknologi. Mereka belajar menanam, merawat, dan memahami proses produksi pangan sejak usia dini,” jelasnya.

Program ini menggunakan pendekatan hidroponik sebagai teknologi utama yang dinilai sesuai dengan karakteristik perkotaan industri yang memiliki keterbatasan lahan dan kualitas tanah yang beragam.

Dalam implementasinya, Smartani Goes to School juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning/PjBL) yang terintegrasi dengan berbagai mata pelajaran.

Saat berada di kebun sekolah, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam. Mereka juga mempelajari sains kehidupan, matematika, numerasi, pengukuran nutrisi tanaman, hingga kemampuan literasi melalui penyusunan laporan pertumbuhan tanaman.

“Kriteria keberhasilan program ini tidak lagi sekadar tumpukan dokumen administrasi. Yang menjadi ukuran adalah dampak nyata terhadap perilaku ekologis siswa serta kontribusi terhadap peningkatan kualitas gizi keluarga mereka,” kata Ahmad Aznem.

Melalui prinsip Manajemen Berbasis Sekolah, setiap satuan pendidikan diberikan keleluasaan mengembangkan model budidaya sesuai kondisi lahan dan tata ruang masing-masing. Pada tahap awal, tiga sekolah dasar menjadi proyek percontohan dengan karakteristik berbeda.

Pertama, SDN 009 Bontang Utara dikembangkan sebagai model Integrated Mega-Farm karena memiliki lahan yang luas. Selain hidroponik, sekolah ini juga mengintegrasikan budidaya ikan nila dan lele serta direncanakan menjadi pusat konservasi lebah kelulut.

Kedua, SDN 005 Bontang Selatan mengusung konsep Ultra-Urban Vertical Farming. Dengan keterbatasan lahan yang hampir seluruhnya tertutup beton, pemanfaatan ruang vertikal dilakukan melalui instalasi hidroponik pada dinding dan koridor sekolah.

Ketiga, SDN 002 Bontang Barat yang menerapkan model Developmental Adaptable Farming menggunakan instalasi hidroponik portabel yang dapat dipindahkan mengikuti proses pembangunan dan pengembangan fasilitas sekolah.

Aznem menjelaskan bahwa aktivitas berkebun mampu merangsang produksi hormon dopamin, serotonin, dan endorfin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan membuka kesiapan belajar siswa.

Selain itu, aktivitas motorik seperti menyemai benih, mengukur nutrisi, hingga memantau pertumbuhan tanaman diyakini dapat memperkuat koneksi saraf otak melalui proses neuroplastisitas.

“Anak-anak belajar fokus, disiplin, sabar, dan memahami proses. Karakter ini akan terbawa saat mereka menghadapi tantangan akademik di kelas,” ungkapnya.

Dari sisi ekonomi, program ini juga memiliki prospek keberlanjutan yang menjanjikan. Berdasarkan hasil uji coba, sayuran hidroponik yang dipanen sekolah mendapat sambutan positif dari guru, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar.

Dengan asumsi instalasi hidroponik skala 200 lubang tanam, keuntungan bersih setiap siklus panen diperkirakan mencapai lebih dari Rp300 ribu setelah dikurangi biaya operasional. Dana tersebut dapat diputar kembali untuk mendukung kegiatan budidaya berikutnya sekaligus menjadi sumber pembiayaan program sekolah.

Ke depan, pembiayaan sarana dasar program dirancang melalui kolaborasi multipihak, termasuk dukungan CSR dan wakaf produktif perusahaan-perusahaan industri di Kota Bontang.

Mengacu pada berbagai praktik terbaik dunia seperti Organopónicos Kuba, Shokuiku Jepang, Buruan SAE Bandung, serta KRPL-KWT Jawa Timur, Pemerintah Kota Bontang optimistis Smartani Goes to School dapat berkembang menjadi gerakan besar yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha.

“Melalui program ini kita tidak hanya sedang menurunkan risiko stunting. Kita sedang menyiapkan generasi emas Bontang yang literat teknologi, mandiri pangan, memiliki karakter kuat, dan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan ketahanan ekonomi yang kokoh,” tegas Ahmad Aznem. (Red)