Newsroom.co.id, Bontang – Kelurahan Tanjung Laut Indah (TLI), Kecamatan Bontang Selatan, mengambil peran sentral dalam upaya pencegahan dan penanganan penyalahgunaan narkoba di wilayahnya. Melalui kolaborasi bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang dan dukungan program CSR PT Kaltim Parna Industri (KPI), kelurahan ini mendorong pembentukan agen relawan anti narkoba berbasis masyarakat.
Langkah ini diwujudkan lewat pelatihan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) yang digelar selama empat hari, sejak 20 hingga 23 April 2026. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas warga Tanjung Laut Indah dalam melakukan pencegahan sekaligus pemulihan bagi penyalahguna narkotika.
Sekretaris Lurah Tanjung Laut Indah, Agustiana, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kebutuhan nyata di tingkat kelurahan. Menurutnya, pendekatan berbasis warga menjadi strategi paling efektif karena masyarakat sendiri yang memahami kondisi sosial di lingkungannya.
“Tidak ada kriteria khusus dalam pemilihan agen, tapi kami memastikan mereka adalah orang-orang yang dekat dengan masyarakat dan memahami karakter wilayah,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Dari hasil pelatihan tersebut, terbentuk enam agen relawan anti narkoba yang berasal dari lingkungan TLI, yakni Baharuddin (pensiunan pegawai), Reski Adinda (staf pemerintahan), Jumadi M Nur, Sabariah, Rita Lestari, serta satu warga lainnya yang aktif di komunitas setempat.
Ia bilang, salah satu agen yang juga merupakan pensiunan pegawai kelurahan dan kini menjadi takmir masjid dipercaya sebagai ketua agen pemulihan. Peran tersebut dinilai strategis dalam membimbing anggota lain serta membangun pendekatan yang lebih humanis kepada masyarakat.
“Harapannya mereka bisa jadi penggerak di lingkungannya masing-masing, bukan hanya memberi pemahaman, tapi juga membantu proses pemulihan,” jelasnya.
Keterlibatan PT KPI dalam program ini berawal dari komunikasi dengan pihak kelurahan dan BNN yang melihat adanya keselarasan antara kebutuhan masyarakat TLI dan program CSR perusahaan. Dukungan tersebut kemudian diarahkan untuk memperkuat aspek sosial, kesehatan, hingga ekonomi masyarakat.
Supervisor CSR & External Relation KPI, Susana Afriati, menyebut bahwa program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh.
“Penanganan narkoba tidak bisa berdiri sendiri. Harus terintegrasi dengan program lain seperti ekonomi dan lingkungan agar dampaknya berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramadani, menjelaskan bahwa Tanjung Laut Indah dipilih sebagai lokasi program berdasarkan data prevalensi penyalahgunaan narkoba. Dengan keterbatasan sumber daya, intervensi difokuskan pada satu wilayah agar hasilnya lebih optimal.
Ia menilai, keterlibatan langsung pihak kelurahan dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
“Kalau masyarakat yang bergerak, pendekatannya lebih mudah diterima. Mereka tahu siapa yang perlu dibantu dan bagaimana cara mendekatinya,” ujarnya.
Dalam kegiatan itu, BNN juga melakukan tes urin terhadap 12 peserta yang terdiri dari staf dan warga TLI. Hasilnya, seluruh peserta dinyatakan negatif dari penyalahgunaan narkoba.
Ke depan, Kelurahan Tanjung Laut Indah bersama BNN dan KPI berkomitmen menjaga keberlanjutan program ini. Selain edukasi, para agen relawan juga akan didorong terlibat dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi seperti bank sampah, guna memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Dengan posisi kelurahan sebagai ujung tombak, Tanjung Laut Indah kini diarahkan menjadi model penanganan narkoba berbasis masyarakat di Kota Bontang. Harapannya, gerakan ini mampu memutus rantai peredaran narkotika sekaligus membangun lingkungan yang lebih sehat dan mandiri. (Adv/Rhae)











